Perselingkuhan Dalam Keluarga
dan Adanya Perceraian
Latar Belakang
Perselingkuhan
tampaknya telah menjadi wabah epidemi yang melanda seluruh dunia dan
meruntuhkan sendi-sendi rumah tangga yang dibangun atas landasan komitmen
kesetiaan sampai mati.
Para pelaku
perselingkuhan pun kini tidak lagi malu-malu menyembunyikan perilaku mereka
yang menghancurkan harmonisasi keluarga, sebaliknya malah ada “kesan” bangga,
karena “berani tampil beda”. Ada beberapa alasan penyebab perselingkuhan dapat
terjadi. Penulis akan menjelaskan dari aspek keluarga dan bagaimana pengaruhnya
terhadap generasi muda. (Surbakti, 2008).
Pengertian Selingkuh
Pengertian selingkuh menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Selingkuh adalah tidak berterus terang, tidak jujur, dan
suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri. (Departemen
Pendidikan Nasional, 2008).
Pengertian selingkuh menurut EB. Surbakti. Selingkuh adalah pengkhianatan terhadap komitmen cinta dengan
pasangan yang mengakibatkan kekecewaan berat, sakit hati, kemarahan, bahkan
keinginan untuk balas dendam. (Surbakti, 2008).
Dengan demikian
dapat disimpulkan selingkuh adalah pengkhianatan terhadap komitmen karena tidak
jujur dan menyembunyikan sesuatu yang
mengakibatkan sakit hati hingga sampai balas dendam.
Gejala dari Orang Ketiga
Gejala orang
ketiga dalam praktik penulis lebih banyak ditemukan pada kaum pria daripada
kaum wanita. Memang benar wanita juga ada yang mempunyai “hubungan intim”,
tetapi lebih sedikit bapak-bapak yang meminta bantuan konsultasi psikologi,
bagaimana caranya menyelesaikan masalah pihak ketiga yang melibatkan istri
mereka. Hubungan-hubungan seperti ini bisa berdampak negatif pada kehidupan
keluarga. (Patmonodewo et al., 2001).
Pihak Ketiga dalam Perkawinan
Dengan berjalannya waktu perubahan-perubahan
dalam hubungan suami-istri terjadi, diantaranya (a) ketidakpuasan, (b)
perbedaan pendapat, dan (c) konflik-konflik terbuka yang tidak dapat
diselesaikan.
Suami maupun istri
dapat mencari pemecahan di luar perkawinan yaitu: (a) hubungan dengan pihak
ketiga “wanita lain atau pria lain” orang ketiga ini akan mengusik perkawinan;
(b) menjadi akrab satu sama lain dan membuat perselingkuhan semakin nyaman; dan
(c) hubungan intim mengakibatkan keseimbangan perkawinan terganggu, bisa sampai
terjadi perceraian.
Alasan dari Perselingkuhan
Adanya kesepian. Kesepian merupakan alasan klasik
beberapa pasangan pernikahan ketika melakukan perselingkuhan. Kesepian terjadi
akibat timbulnya “jarak” fisiologis maupun psikologis. Jarak fisiologis
mengakibatkan perasaan sepi pada saat seseorang tidak bersama kita. Jarak
psikologis mengakibatkan perasaan sepi saat tidak ada orang yang bisa kita
tunggu kedatangannya.
Adanya kejenuhan. Kejenuhan merupakan
kelelahan psikologis dalam mengisi, menjalani, dan mengembangkan pernikahan
supaya tetap bergairah. Kejenuhan juga menciptakan jarak emosional maupun
fisiologis antarpasangan. Namun kejenuhan tetaplah pengingkaran terhadap
komitmen pernikahan.
Adanya kebosanan. Kebosanan muncul
akibat kegagalan pasangan menciptakan kehangatan, keceriaan, keintiman, atau
keakraban dalam pernikahannya. Jika kesetiaan terhadap pasangan banyak bertumpu
pada daya tarik fisik, cepat atau lambat kebosanan akan datang dan terjadilah
perselingkuhan.
Adanya persahabatan. Alasan
persahabatan seperti profesi, bisnis, sosial dan seterusnya dapat memacu
perselingkuhan. Dari sinilah awal perselingkuhan terjadi karena kedekatan
menghilangkan jarak yang seharusnya tetap terjaga dengan baik. Persahabatan
yang terlalu intim mudah sekali bergeser manjadi hubungan yang tertutup atau
sebuah perselingkuhan. (Surbakti, 2008, h.181).
Selingkuh Perbuatan Menyakiti
Apabila seseorang
disakiti, tentu dampak yang dirasakan adalah rasa sakit. Secara fisik rasa
sakit dapat berlangsung hanya sesaat saja. Akan tetapi secara psikologis rasa
sakit yang secara fisik tidak seberapa itu bisa dirasakan berkepanjangan dan
menahun.
Perselingkuhan
yang terlihat langsung dengan sang anak dapat menimbulkan trauma. Trauma
meninggalkan bekas yang cukup mendalam di dalam diri seseorang seperti layaknya
patahan pada permukaan kayu yang meninggalkan bekas mendalam.
Apalagi jika anak
melihat langsung perselingkuhan orang tuanya itu akan menjadi trauma tersendiri
untuk masa depan anak dan akan ada rasa kecewa yang mendalam. (Satiadarma,
2001).
Perceraian Akibat dari Perselingkuhan
Penelitian menurut Hetherington.
Hetherington mengamati perilaku bermain anak-anak dari kelompok keluarga cerai
dan keluarga utuh, baik di dalam kelas dan tempat bermain. Diperoleh
keterangan, ternyata anak laki-laki itu lebih dipengaruhi oleh peristiwa
perceraian dalam keluarga. Setelah dua bulan peristiwa perceraian berlalu,
mereka tampak menjadi kurang imajinatif dan daya kreatif kurang. (Dagun,
1990/2002).
Keadaan dari keluarga utuh. Keadaan ini
berbeda dengan anak-anak dari keluarga utuh yang tetap memperlihatkan
kegairahan dan semangat. Anak-anak dari keluarga retak berubah menjadi canggung
menghadapi realitas sebenarnya. Berkurangnya daya imajinasi anak pada saat
bermain akan sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan kognitifnya.
“Kemahiran
berfantasi pada saat bermain sangat penting” (Singer). Daya imajinasi pada saat
bermain dapat dianggap sebagai faktor yang besar, yang mempengaruhi
perkembangan kognitif anak, perasaan, dan perkembangan sosial. Daya imajinasi
jauh lebih penting daripada sikap reaksi anak terhadap suatu respons.
Percerain Tidak Selalu Negatif
Perceraian adalah
satu-satunya pilihan terbaik dan paling tepat bagi sebuah keluarga yang
senantiasa mengalami konflik berkepanjangan. Banyak para peneliti menemukan
bahwa anak yang diasuh satu orang tua akan jauh lebih baik daripada anak yang
diasuh keluarga utuh yang terus bertengkar. (Dagun, 1990/2002).
“Setiap saat kita
mendambakan kebahagiaan, rukun dengan anak-anak, tetapi kita mempunyai hak
untuk mengakhiri suatu perkawinan bila mendatangkan bencana dan
ketidaktentraman” (Mead, h.136).
Solusi untuk Menghindari
Perselingkuhan
Keluarga secara
keseluruhan memiliki solusi untuk menghindari perselingkuhan, yaitu (a)
memberikan fasilitas kepada anggota keluarga yang memiliki berbagai macam
kebutuhan, (b) mengatasi masalah keuangan keluarga, (c) berbagi tanggung jawab
dalam kehidupan keluarga, (d) menjaga relasi perkawinan tetap utama, (e)
menjembatani kesenjangan komunikasi antar generasi, (f) tetap menjaga relasi
dengan sanak saudara, (g) memperluas wawasan remaja dan orang tua, dan (g)
memelihara aturan etis dan moral yang diperlukan. (Setiono, 2011, h.68).
Simpulan
Perselingkuhan
merupakan teladan buruk orang tua kepada anak remajanya tentang makna seks
dalam pernikahan. Jika kelak anak remajanya setelah menikah tidak mampu
menghargai dan menghormati pernikahannya, hal itu hanyalah kelanjutan dari
contoh yang sudah terlebih dahulu dipertontonkan oleh orang tua. (Surbakti,
2008, h.184).
Dengan demikian,
kita harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita masing-masing.
Harus menghormati komitmen yang telah dibuat dan lebih memikirkan ke arah masa
depan dibandingkan dengan nafsu semata. Tentunya di dalam suatu hubungan yang
namanya komitmen adalah hal paling utama.
Saran
Tentunya yang namanya perselingkuhan tidak pernah baik,
penulis menyarankan sebaiknya kita memberi
contoh yang baik kepada generasi muda untuk menjalin hubungan yang serius
dengan pasangannya masing-masing. Jangan pernah melakukan hubungan yang
tertutup dengan seseorang terutama lawan jenis karena akan menimbulkan fitnah.
Kita harus menghargai kekurangan pasangan masing-masing dan saling menjaga
hubungan komunikasi yang baik.
Daftar Pustaka
Dagun, S., M. (2002). Psikologi keluarga: Peranan ayah dalam
keluarga. Jakarta: Asdi Mahasatya. (Karya asli diterbitkan tahun 1990).
Departemen Pendidikan
Nasional. (2008). Kamus besar bahasa indonesia
pusat bahasa (4th ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Patmonodewo, S.,
Atmodiwirjo, E. T., Marat, S., Munandar, S. C., Gunarsa, S. D., Soewondo, S.,
& Achir, Y. C. (2001). Bunga rampai
psikologi perkembangan pribadi: Dari bayi
sampai lanjut usia. Dalam S.C. Utami Munandar (Ed.). Universitas Indonesia,
Jakarta.
Satiadarma, M., P.
(2001). Persepsi orang tua membentuk
perilaku anak: Dampak pygmalion di dalam keluarga. Jakarta: Pustaka Populer
Obor.
Setiono, K. (2011). Psikologi
keluarga. Bandung: Alumni.
Surbakti, E., B. (2008). Kenakalan
orang tua penyebab kenakalan remaja. Jakarta: Gramedia.